Pentingnya Seorang Teman

Beberapa orang berpendapat, tak ada yang harus dilakukan ketika memilih teman. Teman adalah orang yang pergi ke sekolah bersama, berangkat kantor bersama, atau orang yang tinggal di lingkungan sekitar kita. Kalau kita berpikir lebih mendalam dan serius lagi, ternyata semua itu ada perbedaannya. Kita dapat menyebut orang-orang yang terdekat dengan kita, dan pilihan akan lebih sedikit tentang orang-orang yang kita sebut sebagai teman. Ternyata berteman memerlukan pilihan dan seleksi.

Sebagai seorang muslim, kita harus selalu siap untuk membantu siapapun. Namun teman pasti akan masuk dalam golongan khusus atau bisa dikatakan sebagai prioritas. Orang-orang inilah yang selalu berdiri disamping kita saat kita sedih, yang akan menghibur kita saat duka menerpa, dan orang-orang itulah yang akan kita bela mati-matian ketika mereka disakiti secara lahir maupun batin.



Ada teman yang datang. Ada pula teman yang pergi. Tetapi lima, enam, tujuh, delapan orang teman, atau bahkan sepuluh orang teman akan menjadi teman kita seumur hidup. Teman benar-benar berpengaruh terhadap perkembangan diri dan kepribadian kita. Kadang kita bisa mendapatkan teman hanya dalam hitungan minggu, atau bahkan hari saat masuk kedalam lingkungan yang baru. Sekolah baru misalnya, atau kampus baru. Dan orang-orang itu akan begitu dekat dan begitu akrab dengan kita sampai kita menyelesaikan sekolah atau kuliah beberapa tahun kedepan. Perpisahan atau perpecahan ini akan menimbulkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam bagi sebagian orang.

Hanya ada beberapa hal atau bahkan hanya segelintir hal yang lebih buruk daripada seorang teman yang mengkhianati kita atau memusuhi kita. Kita mungkin tahu perasaan orang yang menyakitkan tentang kita namun ternyata tidak semua seperti yang duga. Tak ada manusia yang sempurna, tidak juga kita, tidak juga mereka. Namun, seorang teman, seorang sahabat sejati lebih berharga daripada emas murni ataupun intan permata. Dan hal itu harus kita jaga dengan baik. Kita tidak berhak memaksakan orang lain untuk menyayangi kita begitu saja. Kita harus mengupayakan sendiri hal itu. Sebelum aku mempunyai seorang teman, aku harus menjadi seorang teman.

Persahabatan sangat memegang peran dalam pembentukan pribadi diri kita, pemikiran kita, sikap kita, moral kita dan spiritual kita. Hal ini hanya tergantung bagaimana kita memilih teman.

“Seseorang berada di jalan teman karibnya, karenanya perhatikanlah dengan sungguh-sungguh siapa yang menjadi teman karibmu.” [Hadist]

Teman atau sahabat dapat memberikan pengaruh yang begitu besar bagi kita. Mereka dapat membuat sikap kita menjadi lebih ramah atau lebih egois daripada sebelumnya. Dapat menjadikan pemikiran kita lebih dewasa, atau bahkan mereka juga bisa menjadikan diri kita lebih berani atau bahkan nekat. Terrgantung bagaimana kita melihatnya. Teman juga dapat menjadikan kita terperosok ke dalam permasalahan atau pergaulan yang tidak baik. Kita tentunya tidak ingin terlihat bodoh dihadapan teman-teman kita dan kita pun tak ingin ditinggalkan karena hal itu. Jika teman kita melakukan sesuatu yang tidak benar, kita pun akan mendapat dorongan yang kuat untuk melakukan hal yang sama.

Itulah sebabnya Allah menegaskan kepada kita agar berhati-hati dalam memilih seorang teman. Untuk membantu setiap orang?? Ya. Untuk menyayangi semua orang?? Ya. Tetapi untuk menjadikan mereka semua sebagai seorang teman, kita harus memilih orang-orang tertentu.

Mengapa Allah mebatasi seperti ini?? Bukankah variasi karakteristik seseorang akan membuat kehidupan lebih berwarna?? Ya...mungkin juga seperti itu. Tapi dengan kita bergaul dengan orang yang tidak beriman kepada Allah akan mendatangkan lebih banyak godaan dan bahaya yang harus kita hadapi. Itu bukan salah kita atau teman kita, tetapi setan yang tak henti-hentinya melakukan sesuatu yang membuat orang tersesat di jalannya.

Apa yang difirmankan Allah? Penjelasan mengenai teman-teman yang berasal dari kalangan orang-orang yang tidak beriman dapat kita baca:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [QS. Al-Imran: 118]

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” [QS. Al-Imran: 119]

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” [QS. Al-Imran: 120]


Allah tidak memerintahkan agar semua teman kita harus orang-orang muslim sejati. Akan tetapi, nasihatNya bahwa kita harus mengutamakan orang-orang yang sepaham dengan diri kita daripada orang-orang yang tidak beriman terlihat jelas:

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. barang siapa berbuat demikian maka lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari hal yang ditakuti dari mereka”. [QS. Al-Imran: 28]

Islam adalah jalan hidup yang penuh dengan tuntutan hingga wajarlah jika kita sebagai orang muslim mencari dukungan kasih sayang dan keramahan di antara sesama muslim lainnya. Kita saling memberi dorongan dan motivasi antara sesama dalam hidup kita sebagai sesama muslim, dan bertindak sebagai penghalang dari terjadinya penyelewengan terhadap islam.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana’. [QS. At-Taubah: 71]

Teman harus saling bersatu dan saling peduli terhadap yang lain. Kita tak dapat dikatakan sebagai teman kalau kita tidak memperhatikan teman kita saat menderita atau bersedih.

“Lihatlah orang-orang yang beriman dalam persahabatan yang saling menguntungkan, mencintai, dan mengasihi dalam satu kesatuan; ketika salah satu mempunyai keluhan maka yang lainnya bersatu dan ikut memikirkannya dengan penuh kesadaran dan kewaspadaan”. [Hadist Bukhari]

Menyayangi teman adalah perbuatan yang berpahala di dunia ataupun di akhirat nanti:

“Seorang muslim adalah saudara dari muslim lainnya. Ia tidak boleh berbuat salah atau menyia-nyiakan saudaranya itu. Jika seseorang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Jika ia menyingkirkan kecemasan saudaranya, maka Allah akan menyingkirkan salah satu kecemasannya di Hari Pengadilan nanti; dan jika ia menyimpan rahasia saudaranya, maka Allah akan menyimpan rahasianya di Hari Kebangkitan nanti”. [Hadis}


1 comments:

Anonymous said...

Bantulah hamba untuk mencari dan menemukan teman yang sesuai bagi hamba ini Ya Allah..

Post a Comment